Di Bawah Semesta

Kadang mati lampu jadi hal yang menyebalkan. Maaf. Maksudnya mati listrik. Ehh maksudnya padam listrik. Haalaahhh, terserahlah, yang penting cinta ku padamu ga pernah padam. #ApalahIniSemua ( “–)
Jadi tadi,ketika matahari sudah mulai pergi menjauh dan hampir menyembunyikan dirinya. Ketika itu saya dan Yuda, teman satu

tempat rumah. Kami lagi asik streaming nonton konser akb48,karena di situ kan jkt48 ikut tampil..OKE.KAMI EMANG NONTON, KENAPA, HAH ? GABOLEH ? #ElusElusDada #DadaAyamKFC
Lalu.. Tiba-tiba *jeger* *backsound suara petir dari kejauhan*
Listrik padam. Kami cuma bisa.. Yahhhhh.
Kemudian,ga lama hidup lagi.. Dan yeaaahhhh.
Lalu balik mati lagi.. Yaahh lagi.
Tapi itu beneran, listriknya tadi gitu. ( .___.)
Selain kami ga bisa lanjutin buat streaming, semangat mandi sore kami pun pudar. Entah kenapa kalau listrik mati semangat buat ngapa-ngapain itu menghilang. Saya cuma baring-baring ga jelas. Yuda juga genjrengin gitar ga jelas.
Yah, bisa dikatakan tema saat itu ga jelas. Sama kaya yang ngebaca tulisan ini. #DiTimpukinSatuRT #DiTimpukinDuitTapinya #DuitMonopoli

Lupa sih berapa lama padamnya.
Tapi ternyata memang benar ya.. Di saat lapu padam kami merasa makin dekat. BUKAN.KAMI BUKAN PENYUKA SESAMA JENIS!!
Maksudnya.. Ya, saya tersadar di saat lampu padam, di saat tv, internet dan semua teknologi yang tidak ada apa-apanya tanpa listrik terlepas di dari tangan untuk sesaat, saya tau bahwa yang bisa kami lakukan waktu itu ya bertukar cerita. Membahas segala sesuatu yang kadang terlewatkan karena kemajuan teknologi.
Berhubung di belakang tempat kami ga ada rumah, cuma ada tembok yang ga lumayan tinggi dan ga lumayan penedek yang membatasi rumah kami dan ribuan talas yang entah itu milik siapa.

Langit saat itu begitu cerah. Dengan padamnya listrik, membuat warna langit malam sangat terlihat jelas. Saya merasa di payungi semesta saat itu. Cieee elah semesta. ( “–)
Kami berbicara tentang planet, bintang, dan bahkan menunggu alien. Siapa tau mereka ada lewat gitu.
OKE, KAMI CUMA NGOBROL. GA LEBIH.
Kemudian di lanjutkan dengan berbicara sejarah, adanya dinosaurus atau engga ? Adanya alien atau engga ? Tentang jarak ribuan cahaya. Tentang kebenaran sejarah, apakah sejarah yang kita ketahui sudah benar adanya atau sudah di manipulasi. Berbicara tentang keajaiban crop circle. Bahkan mengatakan kalau saturnus adalah planet paling romantis karena ada cincinnya.

Malam itu juga udaranya hangat, bintang semakin malam semakin terang. Tapi kaki kami gatal gara-gara itu sudah jam 7 dan kami belum mandi. Aroma kami menyatu, dan mungkin membuat alien ga datang kayanya. ( .___.)
Di sini saya berpikir.. Bukan tentang alien ya.
Kadang, teknologi membuat kita lupa bahwa kita punya mulut, pengetahuan, cerita, dan teman yang bisa di ajak ngobrol.
Begitu juga dengan mata untuk menikmati indahnya semesta. Kita memang bisa kok liat di internet, tapi ga akan bisa merasakan sensasi yang sama jika kita melihatnya secara langsung.
Kadang kita sudah sering terlalu menunduk diam dan fokus pada layar gadget, internet, dan kadang lupa menyapa orang yang di samping kita. Sesekali, cobalah lupakan teknologi dan lakukan seperti yang saya lakukan, walaupun itu juga ga sengaja gara-gara listrik padam. ( “–)
Apakah sekarang kita perlu mengadakan satu hari tanpa listrik dan internet ? Agar kita sadar, dunia tidak hanya sebatas layar laptop dan hp. Bahkan bertegur sapa di dunia nyata akan terasa bedanya jika di banding hanya dengan tulisan yang disampaikan melalui koneksi internet.

Kadang ga perlu hal besar yang membuat kita sadar akan hal kecil. #QuoteMario
Cukup dengan padamnya listrik.. Dan bertegur sapa di bawah indahnya semesta.
Tapi sayang.. Aliennya ga datang-datang. ( “–)

Iklan

10 thoughts on “Di Bawah Semesta

  1. duniaely 28 April 2013 pukul 00:34 Reply

    terbayang ya, ngobrol sambil menghitung bintang 😛

    • Mario Christian 29 April 2013 pukul 00:34 Reply

      Tapi sayang jumlah bintangnya sampai sekarang ga tau berapa ( .___.)

  2. ronal 28 April 2013 pukul 00:34 Reply

    gara2 mati lampu jd ngobrol asyiik donk 😀

  3. Eko Wardoyo 29 April 2013 pukul 00:34 Reply

    wahhahahahaha udah mandi belum bang #tutupidungnich

    – kadang kalau dirasa memang benar, teknologi membuat kita lupa keindahan sosial yang allah berikan… nanti dech sesekali saya matiin lampu gelap gelapan trus ngobrol dan bertukar cerita yang sudah sangat lama tidak ku lakukan.

    • Mario Christian 29 April 2013 pukul 00:34 Reply

      Udah tadi mandinya pake detegen. ( “–)
      Yup, bener tuh. Makanya nanti mas nya sekali-kali aja mati’in lampunya kalo perlu lemparin pake batu lampunya biar ga hidup sekalian *kemudian kabur*

  4. tuaffi 29 April 2013 pukul 00:34 Reply

    pesannya saya bisa tangkap, meskipun dengan gaya bertutur Mario. 😀 seru!
    teknologi memang punya dua sisi, ehh… jadi keinget filmnya bruce willis yang surogates itu. hehe

    • Mario Christian 29 April 2013 pukul 00:34 Reply

      Ya,walaupun gaya bertutur saya kadang aneh ya ( .___.)
      Jadi harus bisa-bisa kita aja ngatur teknologinya. Hihihi
      Wah baru dengar judul film itu deh.

  5. graceblackmaria 11 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    jadi ingat jaman SD, pas sering mati lampu

Berkomentarlah, selama itu masih gratis

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: