Secangkir Melody

Segelas kopi di angkringan menemani malam ku yang dingin dan berangin.
Tampaknya akan hujan lebat, tampaknya aku akan lebih lama di angkringan ini. Sendirian.
Kopi yang ku pesan masih hangat-hangatnya. Ku ambil gelas dan ku dekatkan ke mulut sambil meniup-niupnya.
‘Mas, pesan kopi yang sama kaya orang itu ya.’
Suara itu muncul tiba-tiba tepat di sebelahku. Ku lihat seorang gadis muda berpenampilan rapi, lebih tepatnya cantik, untuk ku pribadi. Ku perhatikan sekelilingku,hanya aku dan Mas pemilik angkirngan ini yang ada, sebelum gadis itu datang. Ya, sudah pasti dia menunjuk kopi yang ku minum tadi.
‘Ka, rasa kopi gimana sih ? Aku dari kecil belum pernah minum kopi, entah kenapa aku penasaran dan pengen banget nyoba.’
‘Ya, coba sendiri deh. Tuh punya kamu udah jadi.’  Jawabku dengan masih memasang tampang siapa-anda-yang-mendadak-datang-lalu-menegur-gitu-aja, sambil menunjuk kepada Mas yang sedang mengaduk kopi pesanan gadis itu.
‘Awas masih panas.’ Lanjutku sambil kembali menyeruput kopiku.
Gadis itu memegang kopi dengan kedua tangannya hanya menggunakan kedua telunjuk dan ibu jarinya tepat di bibir gelas, dan meminumnya.
‘Ohh jadi pahitnya gini ya, ka. Kaya obat.’ Gadis itu menatap ku sambil nyengir.
‘Ya ini kan bukan susu.’ Balas ku. ‘Tapi kalau kamu kepahitan ya kamu bisa minta gula sama Mas nya.’
‘Ah engga deh, aku mau ngerasin nikmatnya kopi yang original deh.. Hehehehe.’
‘Ya silahkan deh, nikmati kopi pertamamu.’ Lanjutku sambil kembali meneguk kopi ku perlahan.

Suasana hening. Gadis itu tampak diam memperhatikan gelas kopinya. Aku lebih memilih untuk mengambil handphone ku, ya, cara ini biasa ku gunakan di saat momen-momen akward seperti ini. Lagipula aku harus berbuat apa dengan gadis yang datang tiba-tiba lalu mengajak mengobrol seolah-olah sudah kenal lama.
Gadis itu memainkan sendok dan terus mengaduk kopi itu terus menerus.
Entah kenapa aku terus memperhatikannya, dengan banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan.
Tiba-tiba gadis itu beranjak dan membayar dengan selembar uang lima puluh ribu. ‘Sekalian nih mas kopi aku tambah punya kaka yang itu ya, sisanya ambil aja deh.’
Gadis itu berangkat dan membiarkan kopinya masih penuh dan panas, tentu juga dengan perasaan heran ku yang makin besar. ‘Wah pelanggan ada-ada aja ya.’ Ucap Mas pemilik angkringan dengan logat Jawanya yang kental.
‘Hahaha iya, ada-ada aja ya.. Hahaha.. Ha.’
Jawabku sambil masih penuh dengan rasa heran.

‘Tunggu.’ Teriaku pada gadis itu.
Untunglah dia masih belum jauh dari angkringan.
‘Ini, aku ga nyaman nerima bayaran dari orang yang ga ku kenal.’
Aku menyerahkan uang harga kopi yang tadi.
Gadis itu tertawa, ‘Jadi kaka ngejar aku cuma buat ngasih ini ? Ga usah ka, gapapa kok.’
Ku raih tangan gadis itu dan ku letakan uang di telapak tangannya dan ku tutup dengan paksa.
‘Sudah di bilagin ga usah ka.’ Gadis itu membalas seperti yang aku lakukan tadi.
Aku menghela nafas panjang. ‘Pasti zodiak kamu sagitarius ya, kelihatan keras kepalanya.’ Entah kenapa aku malah jauh membahas rasi bintang di saat-saat seperti ini. Ya ampun.
‘Ah jangan asal tebak ka. Ya udah, aku pulang ya.’ Gadis itu berbalik dan melangkah.
‘Aku gapapa kok di bayarin kamu tadi asal ada syaratnya kamu harus dengarkan aku cerita di sini dan sekarang juga.’ Balasku tanpa jeda.
Gadis itu melihat ku dengan tatapan bingung sama dengan tatapan bingung ku saat melihatnya di angkringan.
‘…Paling tidak 10 menit.’ Lanjut ku.
Kursi dan lampu taman menemani kami berdua malam itu. Angin semakin deras tapi belum ada tetes hujan pun yang turun dari tadi.
Gadis itu tampak bingung melihat ku sedang mengatur stopwatch di jam tangan ku.
‘Lihatlah, aku berjanji ini tidak akan lebih dari 10 menit. Setelah itu kamu boleh pulang.’
‘Kaka serius soal 10 menit itu ? Astaga…’
‘Aku orang yang tepat janji, tenang saja.’ Nada ku sedikit menyombong. ‘Kamu ga usah bingung dan heran dengan apa yang kuceritakan. Jika ingin bertanya, Tanya yang hanya menyangkut dengan cerita ini ya.’ Lanjut ku.
Gadis itu bingung, tapi dia hanya diam dan mengangguk. Sepertinya dia juga agak penasaran.
Klik, ku tekan tombol di sisi jam ku, pertanda stopwatch sudah mulai menghitung mundur.

‘Yaudah kalo itu emang maunya kamu, aku juga ga perlu orang kaya kamu. Aku bisa pulang sendiri, jangan peduli sama aku lagi.’
Gadis berkacamata, keturunan cina dan tampak manis. Namanya Cherry.
Dia tampak marah besar, lebih tepatnya kecewa, dan juga di tambah rasa bosan. Sepertinya bukan hanya Cherry.
Pria yang duduk tepat di sebelahnya pun ikut merasakan.
Rambut bergaya shaggy, sawo matang, dan hidung mancung. Namanya Dika
Mungkin setengah jam lebih sudah Cherry “berceramah” dan Dika hanya bisa mengangguk dan diam
‘Dika. Kamu dengarin aku ga sih ?’
Dika hanya bisa menggangguk lesu.
‘Kamu ga takut kita putus. Kamu ga peduli aku ? Kamu ga peduli hubungan kita ?’
‘Cher, gimana aku bisa peduli. Hubungan kita gini-gini aja. Minggu lalu aja, kamu minta jemput cowo..’
‘Bukannya kamu udah janji ga bahas itu ? Aku udah bilang aku yang salah. Lagipula kami cuma jala..’
‘Cuma ? Kamu bilang ‘Cuma’ ? Setelah itu kamu datang minta maaf seolah-olah itu hanya kesalahan kecil ?’ Kali Ini Dika yang memotong omongan Cherry.
Kemudian keduanya hening. Beberapa menit di taman jadi terasa sangat lama hingga Cherry beranjak pergi tanpa meninggalkan bahkan menoleh kearah Dika.
Dika pun menunduk, tak mengangkat kepalanya sedikit pun.


Mereka tak pernah tau bahwa mereka berdua sama-sama menetaskan air mata diwaktu yang sama, untuk hal yang berbeda.

Dika terdiam dan sadar bahwa semua ini, sampai Cherry jalan dengan pria lain adalah salahnya.
Dia sudah bukan yang dulu, Dika yang sekarang sudah tampak membosankan bagi seorang Cherry. Dika sekarang adalah Dika yang sibuk dengan dunianya, sedangkan Cherry seseorang yang hanya duduk di depan pintu menunggu Dika membuka pintu dan mempersilahkannya masuk untuk bergabung di dunianya. Seandainya ini sekitar sebelas bulan lalu, awal-awal hubungan mereka yang masih mesra-mesranya, mungkin Dika akan dengan senang hati membuka. Tapi, seiring berjalannya waktu, rasa bosan terus saja menusuk dan hampir membunuh. Dika.. Tidak.. Cherry.. Tidak. Mungkin keduanya, mereka lupa kalau mereka punya seseorang di dalam dunia mereka, tapi mereka sibuk dengan dunianya masing-masing.

Berhari-hari tetap tidak ada kabar.
Padahal keduanya sama-sama menunggu kabar, dengan harapan yang tipis.
Sampai hari ini tetap tidak ada kabar. Entah di sebut apa hubungan mereka sekarang.

 

Gadis itu menatapku dengan serius padaku itu
Aku berhenti bercerita berhenti dan menatapnya balik.
‘Aku tau ini cerita yang membosankan.’
‘Tidak. Aku masih ingin dengar kak, lanjutkanlah. Ayooo’ Angguk gadis itu.
Sebenarnya dapat ku lihat rasa penasaran yang tersembunyi di balik ekspresinya.
Aku melihat jam tangan ku. ‘Masih ada 5 menit ya ? Tapi sudahlah, cuaca sepertinya akan hujan, lebih baik kamu pulang saja.’
‘Aku ga mau pulang kalau kaka masih cengeng kaya gitu.’ Gadis itu menyodorkan tisunya ke hadapanku.
‘Tapi gapapa kok kak, menangis untuk orang yang di sayang adalah hal yang wajar.’ Lanjutnya.
‘’Hey apa maksu..’
‘Sudahlah ka Dika, lap dulu air matanya ka.’
‘Baru kali ini aku bercerita sejauh ini dengan orang yang bahkan tidak ku kenal sama sekali.’
‘Aku juga baru kali ini ngeliat orang yang ga ku kenal sama sekali mau cerita bahkan sampai seperti ini tanpa alasan apapun.’
‘Ini bukan tanpa alas an, Mel.’ Ku rogoh sesuatu di kantong jaket ku dan ku serahkan pada gadis itu. ‘Tadi ku temukan handphone mu tepat di sebelah ku, ga lama pas kamu pergi, lalu ada sms masuk.. Maaf, aku sudah lancang membuka sms mu.’
Ya namanya Melody. Dia tu tampak terkejut, atau mungkin marah. Tidak. Dia tertawa keras, seperti baru saja semua bebannya ia hempas dan pergi.

‘Aku bercerita.. Ya karena kurasa kau mengalami hal yang hampir sama denganku, baru saja tadi, kan ?’
Ucap ku di tengah tawanya.
‘Ya, aku hampir gila.’ Balasnya masih dalam tawanya yang pecah ‘Entah itu berlebihan atau apa. Membeli semua makanan dan minuman yang ada tapi tidak menghabiskannya. Kopi yang dari aromanya saja sudah membuatku tidak suka, malah aku minum, bahkan menegur semua orang yang bahkan aku tidak kenal. Termasuk ka Dika. Gila kan ?
‘Ya dan yang lebih gilanya, adalah aku yang mau-maunya bercerita pengalaman pribadi dan duduk tepat di sebelah orang gila ?’
Melody memasang tatapan aneh padaku. Lalu tertawa lepas. Kami bersama.
Sekarang aku sadar, bukan cuma jatuh cinta yang membuat orang berubah, patah hati juga.

‘Aku tidak tau harus apa, tapi makasih ya ka cerita kaka menyadarkan ku.’
‘Tunggu apa lagi, hubungi dia sekarang.’
‘Ga ka.’
‘Loh, kenapa ? Kamu sayang dia kan ?’
‘Nah kaka juga sayang ka Cherry juga kan ? Aku tau kok, sebenarnya ka Dika dan kak Cherry perlu kopi yang baru yang lebih segar dan hangat. Atau mungkin kak Cherry bukan kopi yang di buat untuk kak Dika, mungkin dia kopi orang lain yang cuma kebetulan salah antar, jadinya ya malah ke ka Dika, dan sempat kaka cicipi lagi.’
‘Mel ? Kenapa malah kamu yang nasehati kaka ?’  Balasku dengan tawa.
‘Ga kok kak, dengan cerita kaka juga aku sadar. Aku terlalu memaksa. Padahal aku sadar bahwa keadaannya tidak bisa di paksa.’ Melody tertunduk lesu. ‘Entah apa yang Tuhan rencanakan, mengirimkan orang asing di tempat dan situasi yang seperti ini.’
Melody beranjak dan mengencangkan badannya. ‘Ahhhhh, apa mungkin aku semakin dekat dengan cafe kopi ku ya ?’
‘Who’s know ?’ Balasku dan ikut mengencakan badan ku. ‘Aaahhhhhh’
Tiba-tiba stopwatch ku berbunyi menandakan telah berlalunya sepuluh menit.
‘Nah lihat.. Stopwatch sudah berbunyi. Sekarang pulanglah. Lagipula awan semakin mendung. Aku juga sudah mau pulang.’ Aku menunjuk arah yang berlawanan dari arah pulangnya Melody.
Aku langsung berbalik dan langsung beranjak sambil melambaikan tangan.
‘Terima kasih buat 10 menit yang menyenangkannya ya, Mel. Kapan-kapan kita ketemu di angk..’
‘Aku tau ini ga sopan tapi aku mau ka Dika temanin aku pulang sekarang juga lagipula dekat kok jaraknya kalau kaka menolak aku memaksa,’
Ucap Melody tanpa jeda.  Aku terkejut dan berbalik.
‘…Paling tidak cuma 10 menit.’ Lanjut Melody dengan terengah-engah sebagai penutup kalimatnya.

‘No problem.’ Ucap ku tanpa pikir panjang. Dengan tawa dan terkejut pastinya.
Ku masukan kedua tangan ku ke kantong jaket dan berjelan menyesuaikan langkah Melody.
Dia nyengir.Aku juga nyengir, sambil menarik ingus yang masih tersisa di dalam hidungku.
‘Oh ya ka, soal zodiak tadi, aku memang sagitarius loh. Kok kaka tau ?’
‘Oohhhh..  Itu.. Mudah.. Sagitarius adalah sang pemanah, dan aku ngeliat sasaran panah ada di kamu, Mel.’
‘Hey, serius ka.’ Melody memukul pelan bahuku.
‘Hey, apa salahnya sih menebak.’ Balasku dengan mengikut gaya nada bicaranya saat mengatakan “hey, serius ka” tadi, tapi tanpa memukul bahunya. ‘Oh ya, satu lagi.. Jangan panggil kaka ya, Mel’
‘Loh kenapa ? Kan kalo pakai kaka jadinya lebih sopan, dan lucu juga sih.. Hehehehe. Ya kan, Ka Dika ?
Lalu,  kami pun tertawa. Menyusuri jalan dan di payungi sinar-sinar lampu taman dan hembus angin malam yang dingin. Di situlah aku menemukan jalan menuju toko kopi, untuk secangkir kopi ku yang baru dan hangat, dan memang untuk ku.
Secangkir Melody.

Iklan

12 thoughts on “Secangkir Melody

  1. ryan 9 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    secangkir kopi membawa keindahan ya.
    ceritanya enak banget dibaca.

    • Mario Christian 10 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

      Secangkir kopi juga bisa menghilangkan ngantuk. Hahahaha.
      Makasih ya udah baca.:)

      • ryan 10 Mei 2013 pukul 00:34

        hahahaha.
        gak ngaruh sih untuk saya. kopi gak bisa ngurangin kantuk. 😀

      • Mario Christian 13 Mei 2013 pukul 00:34

        Wah kayanya kopi yang ngaruh ngantuk atau engga itu tertgantung orangnya lagi ya –“

      • ryan 13 Mei 2013 pukul 00:34

        sepertinya gitu. atau dah kebal kali ya…

  2. duniaely 10 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    apakah cerpennya berdasar pengalaman pribadi ? 😛

  3. graceblackmaria 11 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    wess ini tambah lancar aja nulisnya. bacaannya ringan se-ringan badanku 😀

    • Mario Christian 13 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

      Semoga aja nanti lancar selancar naik selacar ya ( .___.)

  4. walidin 12 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    Sangat briliant.. ! Gan

  5. walidin 13 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    Ok gan n keep blogging.. di tunggu kisah kocaknyajuga gan…

Berkomentarlah, selama itu masih gratis

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: