Bintangnya Ve

Jam makan yang sama seperti biasanya. Datar.
Hanya duduk di tempat favorit ku, bersama laptop dan makan siang ku, tepat di kursi paling pojok.
Semenjak kerja magang di kantor swasta selama 4 bulan, cafe ini juga menjadi saksi bisu apa saja yang ku lakukan setiap makan siang. Beberapa pegawai tetap di tempat makan ini juga sudah cukup akrab dengan ku, hafal dengan selera ku. Bahkan sudah paham untuk menyediakan tempat kosong bila ini jam makan siang ku. Ya, tempat yang cukup nyaman untuk menghabiskan waktu makan siang, sendirian.  Wi-fi yang gratis, tempat charge, semuanya membuatku hampir lupa waktu. Kadang pegawai yang sudah mengenal ku tidak segan untuk menegur bahwa waktu makan siang ku sudah habis. Mereka pegawai yang baik, untuk diriku pribadi. Banyak semua hal yang aku lihat dan tonton gratis dari tempat ini. Dari pengunjung yang kelupaan membawa dompet, pengunjung yang lebih banyak bergosip daripada memesan makanan, sampai drama kisah cinta yang tidak ada habisnya. Semuanya lengkap di tempat makan ini. Oh ya jangan lupa dengan lonceng di atas pintunya. Aku sangat menyukainya. Entah apa hanya aku yang menyukai lonceng yang berbunyi saat pintu itu terbuka.

Kamis, 11:25 siang.
Tempat ini ramai seperti biasanya, suara pegawai cafe yang sibuk mengurusi semua pesanan, omelan beberapa pengunjung yang tidak sabaran, dan juga suara lonceng yang bergoyang otomatis ketika pengunjung membuka pintu masuk. Semuanya berkumpul menjadi satu.
Aku fokus pada layar laptop dan jari-jariku yang terus menari di atas keyboard.

“Kopi hangatnya satu, tambah gulanya sedikit ya, mbak.”
“Baiklah, ada pesanan lain ?”
“Ga mbak, itu aja.”

Suara seorang pembeli yang kali ini tampak berbeda. Suara yang tidak lewat begitu saja tapi melekat beberapa saat, lalu pergi, tapi meninggalkan bekas. Bekas yang membuat penasaran.
Aku mencoba menoleh, ahhh, hanya tubuh bagian belakang yang tertutup rambut panjangnya. Wajah. Aku ingin melihat wajahnya, ayo berbalik, berbalik lah. Ku sandarkan daguku pada salah satu tanganku, menatap tajam kearah wanita itu. Rambutnya terurai rapi. Hanya rambutnya yang bisa ku deskripsikan untuk sekarang. Ah, jangan lupa dengan suaranya. Suara yang membuat perhatian ku teralih untuk sesaat. Wanita itu berjalan mencari tempat duduk yang pas, tidak jauh dariku. Kini aku bisa melihatnya, sangat jelas. Wajahnya manis, matanya tampak tenggelam ketika dia tersenyum saat menerima kopi pesanannya tadi. Dia tampak mencari sesuatu di dalam tas tangannya.Biar ku tebak, smartphone. Ah sudah bisa tertebak.
Dia sedikit sibuk dengan smartphonenya, tampaknya sedang chatting, mungkin. Tapi wajahnya tampak datar bahkan terlalu fokus. Sesekali dia meminum kopinya lalu kembali fokus dengan smarthphonenya. Tapi kadang dia ada tersenyum kecil kok saat fokus dengan smartphonenya.
Lima belas menit hampit berlalu, aku kira dia menunggu seseorang, atau masih menunggu seseorang.
Sementara itu makan siang ku tampak mulai dingin, tulisan di laptop ku pun terbaikan.
Baru kali ini aku menghabiskan waktu untuk memperhatikan seseorang. Semoga saja tidak ada seseorang yang memperhatikanku sedang memperhatikannya.

“Mau kenalan langsung atau di kenalin nih ?”
Suara yang tidak asing lagi. Rian. Salah satu pegawai yang sudah lama mengenalku.
Tapi kenapa harus seorang laki-laki yang memperhatikan laki-laki juga ?
“Yan, jangan bilang kalau kamu dari tadi merhati’in aku terus. Atau jangan-jangan.. Kamu ?”
“Iya, aku harus jujur, Tang. Sebenarnya aku..” Rian langsung menggenggam tanganku erat.
“Oke, bahan becandaan yang sama yang ke sepuluh kalinya dalam minggu ini.” Aku menarik tangaku, segera.
Rian langsung duduk di kursi tepat di hadapnku.
“Udah, langsung aja Tang. Jarang-jarang kamu ketemu orang asing kaya gitu, cantik lagi, kalau ga mau ya biar buat aku aja.” Rian bergerak seolah-olah akan berdiri dan mendatangi wanita itu.
“Jangan Yan.” Cegahku. “Lagipula, dia pasti baru pertama kali ke sini. Kan kalau jam makan siang biasanya aku hafal orang-orang yang ke sini. Tapi ah, ga tau juga sih, mungkin aja aku yang baru liat ya.”
“Engga Tang, aku juga baru liat. Orangnya manis gitu ya, mana pakai behel gitu, behelnya bening, kamu baru bisa liat kalo dari dekat.”
“Oh ya..” Sial. ‘Oh ya’ nya milik ku keluar dengan nada bahwa aku begitu antusias semua tentang gadis itu.
“Tuh kan, kamu tertarik kan, udah ngaku aja. Ayo cepat, nanti terlambat loh.” Balas Rian sambil menunjuk kearah wanita itu yang sudah tampak bersiap akan meninggalkan cafe.
“Tang, kamu besok mungkin masih ke sini, tapi kemungkinan kamu ketemu dia itu kecil Tang. Ya, sekarang atau tidak selamanya. Aku gini-gini sudah banyak pengalaman. Ga kaya kamu yang tiap siang cuma fokus sama laptop dan tulisan-tulisan mu itu.”
“Iya aku tau kok, pengalaman kamu di tinggal wanita emang udah banyak sejarahnya. Bahkan cafe ini aja udah pernah jadi saksinya.” Ejek ku.
“Hey, kau, wanita yang disana.” Wanita itu berbalik dan melihat kearah aku dan Rian. Wanita itu mengarahkan telunjuknya ke arahnya dengan memasang wajah yang seolah-olah berkata ‘kau memanggilku ?’
Habislah aku. Entah apa yang di lakukan Rian, apa dia marah karena aku mengejeknya lalu ingin membalas dendam dengan cara ini ?
“Iya kamu..” Ucap Rian.
Entah apa yang harus ku lakukan, yang pastinya aku sudah siapa untuk kabur seribu langkah. Aku perlahan menutup laptop dan memasukanya ke dalam tas.
“Iya.. Kamu meninggalkan sesuatu di mejamu tuh. Punyamu kan ?”
Wanita itu berbalik ke mejanya. Mengambil sebuah benda, sepertinya kunci.
“Ah iya. Ini kunciku” Gadis itu setengah menunduk dari jauh sambil tersenyum,mungkin itu ucapan terima kasih. “Makasih ya, aku hapir lupa.”
Wanita  itu lalu membuka dompetnya dan mengeluarkan beberap lembar uang dan meletakkannya di meja itu. Tampaknya itu tip untuk Rian.
“Sama-sama. Lain kali hati-hati ya.” Balas Rian sambil setengah menunduk sebagai balasan yang tadi.
Gadis itu berbalik dan pergi. Lonceng di atas pintu berbunyi ketika dia membuka pintu dan keluar.
“Tuh liat kan, apa susahnya menegur. Dapat tip pula.” Senyum puas keluar dari wajah Rian.
Tapi aku tidak memperdulikannya, ku bawa tas ku dan bergegas keluar. Langkah yang tidak biasanya, lebih cepat. Bunyi lonceng kembali berbunyi saat aku keluar dari cafe.
Apa ini semua ? Apa yang aku rasakan ? Aku juga bahkan tidak tau. Tapi aku harus..
Aku sedikit berjingkit dan mempertajam penglihatan ku di tengah keramaian.
Nah itu dia, rambut hitamnya yang indah,aku dapat mengenalinya. Dia ada di beberapa pejalan kaki yang menunggu lampu lalu lintas menjadi warna hijau untuk para pejalan kaki.
Aku lebih mempercepat langkah ku, melewati kerumunan orang dan terus menyalip. Beberapa orang memang sempat ku tabrak, ya sudah pasti tidak sengaja. Tapi omelan mereka tidak ku dengarkan. Untungnya mereka tidak mengejar ku. Lampu lalu lintas sudah hijau, semua pejalan serempak menyebrang. Wanita itu pasti terselip di tengah-tengah di antara mereka.
Itu dia, tepat lurus di depanku.
“Hey!” Teriakan ku yang keras mengalihkan perhatian semua pengguna jalan, tapi tidak untuk waktu yang lama. Semoga saja mereka tidak menganggapku orang gila.
Semua orang melihat termasuk gadis itu. “Iya kamu.” Ucapku keras.
Gadis itu menunjuk kearah dirinya sendiri seperti yang dilakukannya di cafe tadi. Aku berjalan ke arahnya sambil terengah-engah. Dia diam menungguku dalam kebingungan. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.
Gadis itu tampak membongkar isi tasnya, apa mungkin dia akan mengeluarkan senjata tajam atau apa ?
Aku agak sedikit gugup, jujur. Tapi dia tidak melanjutkan dan tidak mengeluarkan apa-apa. Syukurlah.
Akhirnya, aku dapat bertatapan langsung, menatap tajam matanya yang indah. Tentu saja dia balas menatap ku, masih dalam keadaan terkejut tentunya.
Ku kumpulkan semua niat dan ku beri tangan kanan ku untuk bersalaman.
“Hai..” Aku meneguk liur untuk sesaat.
“Namaku..Bintang.”

~~~~~~~~

Hari baru di kota baru.
Untunglah cuaca dan burung-burung di pagi ini sangat bersahabat. Lebih nyamannya lagi aku mendapat kamar apartemen yang jendelanya mengarah tepat kearah taman. Pasti akan menjadi pemandangan yang nyaman untuk santai di sore hari nanti.
Untuk sekarang aku harus bergegas mandi dan bersiap, interview pertama di sebuah kantor swasta sudah menunggu. Untunglah perjalan tadi malam sangat nyaman dan juga aku dapat beristirahat dengan nyenyak semalam. Walaupun barang-barang di apartemen masih dalam kardus, belum ada waktu untuk aku merapikan semuanya. Bahkan baju-baju masih di koper, kecuali baju untuk hari ini, aku sudah menyetrikanya tadi malam. Siapapun pasti tidak akan melewatkan interview pertama dengan baju yang lusuh kan ? Lagipula itu pasti akan menjadi nilai plus kan ? Hehehehe.

Setelah bersiap.. Ah hampir saja aku melupakan sarapan. Roti, telur mata sapi  dan segelas susu.  Praktis, menyehatkan dan lumayan untuk memenuhi perut di pagi ini.
Interview di mulai pukul setengah sembilan, tapi jam delapan aku sudah duduk manis menunggu bos kantor ini.
Waktu terasa sangat lama saat di interview tadi,dan ada juga gugupnya. Kurang lebih tiga puluh menit, dan akhirnya keluar. Bebas rasanya. Ya, semoga saja tidak sia-sia. Sudah jauh-jauh datang ke kota ini, memulai semua yang baru dari awal. Semoga saja ini menjadi awal yang baik.

Aku memutuskan untuk melihat-lihat sekitar area di aini. Ya walaupun dengan cara  ‘asal tebak jalan’, semoga saja aku mendapat tempat yang mengasikan. Meski tersesat paling tidak aku sudah tau alamat apartemen ku.
Beberapa toko bunga menarik perhatianku, aku mencoba singgah, walaupun hanya sekedar untuk melihat-lihat.­­ Beberapa toko pernak-pernik khas kota ini juga tidak lepas dari perhatianku. Aku membeli sebuah gantungan kunci berbentuk bunga matahari dan langsung memasangnya sebagai gantungan kunci apartemen ku.
Hey, ternyata di hari pertama saja aku sudah mulai jalan-jalan. Padahal tadinya cuma ingin interview kemudian pulang, tapi keindahan kota ini mengubah semua niat ku.
Bahkan cafe kecil di ujung jalan menarik perhatianku lebih.
Yang lebih menarik lagi adalah lonceng di atas pintunya, sangat lucu dan ingin rasanya keluar masuk dan memainkan lonceng tersebut. Tapi sepertinya tidak salah aku menemukan tempat ini, desain minimalis, lucu dan tampaknya .. Ya sudah bisa di tebak lah jika tempatnya di datangi banyak pengunjung.
Aku langsung memesan, walaupun hanya sebuah kopi.
Jujur aku masih belum lapar. Setidaknya kopi adalah alasanku untuk bertahan sebentar menikmati cafe ini dan melihat bagaimana orang-orang di kota ini. Walaupun hanya dalam sebatas cafe.
Aku langsung memilih tempat duduk, kebetulan sudah banyak yang penuh dan satu-satunya adalah di sini tepat di bawah kipas angin yang berputar perlahan di atasku. Tampaknya aku mulai mencintai cafe ini, kesan yang sangat klasik dan pelayanan yang ramah, sepertinya aku harus ke sini tiap makan siang.
Tiba-tiba smartphone ku bergetar. Ternyata sebuat chat dari teman lama, Theresia.

Hai bagimana interviewnya  ? Sukses ?

Yup, sukses sih, walaupun tadi gugupnya minta ampun.

Syukurlah. Tadi baju ga lupa di setrika kan ? Ingat, baju yang rapi itu bisa jadi nilai plus loh.

Tenanglah, aku selalu ingat pesanmu yang itu.

Akhirnya aku fokus dengan samrtphone ku tanpa perduli sekelilingku. Sesekali ku minum kopiku yang hampir dingin. Aku terlalu asik dengan Theresia sekarang.

Bagimana dengan pria-pria disana ?

Hey, aku baru sehari di sini. Masih belum ada waktu untuk lirik sana-sini.

Ayolah. Kau harus cuci mata juga, lagipula kau sudah lama sendirian. Mungkin kota baru, pasangan baru.

Terserah apa katamu lah. Tapi kalau ada sih syukur.

Tuh kan, aku sudah bisa menebak. Dasar wanita kesepian. Kamu terlalu fokus sama interview kerja dan cita-cita mu sih. Kau harus cari, jangan menganggap kalau mereka sebagai penghalangmu menuju cita-citamu. Harusnya sebagai sebaliknya, sebagai pendorong dan pemberi semangat untumu.

Aku hanya tertawa kecil melihat isi balasan Theresia. Cerewet aslinya keluar. Bahkan julukan wanita kesepian masih saja dia gunakan.

Iya deh iya, tau kok yang di kejar banyak cowo tau kok.

Tidak terasa chattingan beresama Theresia menghabiskan banyak waktu.

Aku hampir lupa masih banyak yang harus ku kerjakana, Theresia juga tampaknya sudah mulai sibuk. Kan ini sudah hampir habis waktunya makan siang. Aku mengakhiri chat dan memasukan smartphone ku ke dalam tas.
Aku beranjak dari kursi, dan sudah hampir menuju pintu keluar tapi tiba-tiba ada seseorang yang memanggilku.
Ku balikan badan ke arah suara itu, ternyata seorang pelayan yang tadi.
Aku hampir lupa dengan kunci apartmenku. Untunglah pelayan itu mengingatkan. Ya ampun, cerobohnya aku. Aku memberikan beberapa tip di atas meja untuknya sebelum aku benar-benar pergi keluar dari cafe.

Walaupun aneh, tapi aku suka mendengar lonceng di pintu keluar ini. Apa mungkin hanya aku yang menyukai hal ini ?

Aku terus menyusurui balik jalan yang ku lewati tadi. Sepertinya ini tidak jauh dari apartemenku. Aku masih bisa mengingat setiap tikungan dan beberapa tempat di sekitarnya. Siang ini pejalan kaki semakin banyak, entah darimana saja mereka. Aku bahkan sampai tertutup di antara mereka yang tinggi-tinggi. Aku mencoba menyesuaikan langkah mereka yang lebar dan begitu cepat.
Bahkan saat menunggu lampu lalu lintas untuk pejalan kaki pun aku tenggelam di antara mereka. Entah mereka yang terlalu tinggi atau aku yang kekecilan. Aku rasa ini terlalu sempit, aku hampir tidak tahan. Panas, adalah salah satu faktor utama yang membuatku ingin cepat-cepat pulang dan menikmati dinginnya AC apartemen.
Akhirnya, lampu lalu lintas untuk pejalan kakipun berwarna hijau. Setidaknya himpitan itu berkurang dan sedikit ada ruang untuk aku yang kecil ini.
“Hey!” Sepertinya aku.. Tidak, bukan cuma aku tapi orang-orang juga mendengarnnya, semua orang langsung mengarah ke asal suara itu.
Aku juga penasaran, ternyata orang itu tepat searah di belakang ku. Orang-orang hanya melihatnya sebentar lalu kembali berjalan dengan memasang tatapan ‘ini dia ada satu orang aneh lagi di tengah kota’.
Tapi belum sempat aku berbalik, orang itu, hmmm, lebih tepatnya pria itu menunjuk tepat kearah ku. Wajahnya tampak kelelahan seperti habis di kejar sesuatu, atau mungkin mengejar ?
Aku hanya terdiam dan kebingungan melihat dia mendekatiku.
“Iya kamu.” Ujarnya sambil terus mendekatiku.
Aku masih bingung sambil berusaha mengingat siapa dan kenapa dengan orang ini.
Iya, aku ingat pria ini. Pria yang ada di sebelah pegawai yang mengingatkan aku tentang kunci ku. Apa mungkin dia datang untuk mengantar sesuatu yang ketinggalan lagi. Aku mengecek tas ku, tapi sepertinya semuanya lengkap. Jadi apa yang dia lakukan ?
Kami tepat berhadapan satu sama lain. Tapi sepertinya dia tampak ketakutan ketika aku mengecek isi tas ku, entah apa yang di pikirkan orang ini.
Lalu ?  Pikirku, apa yang harus ku lakukan ?
“Hai..”
Pria itu mulai mengeluarkan suara, dia tampak sedikit gugup. Tapi aku bingung, apa itu gugup atau lebih tepatnya kelelahan ?
“Namaku.. Bintang.” Pria itu memberikan tangan kanannya.
Memperkenalkan diri ? Apa yang..
Aku masih bingung, lebih tepatnya terkejut.
“Hai..” Aku mencoba tersenyum di balik keterkejutanku.
Ku berikan tangan kananku dan membalas salamnya. Entah apa yang ku pikirkan, tapi tidak ada salahnya kan.
“Namaku.. Ve.”

Tanpa sadar, warna lampu yang tadinya hijau sudah menjadi warna merah.
Beberapa mobil sudah membunyikan klaksonnya,dan beberpa orang di dalamnya meneriaki kami berdua.
Aku dan bintang hanya bisa tertawa, lebih tepatnya tawa yang mencoba akrab dan kemudian berlari ke ujung jalan sebelum para pengemudi itu semakin murka.

 ~~~~

Dua minggu kemudian.

“Jadi ini ceritanya dua orang asing yang tidak saling kenal dan kemudian bertegur sapa di tengah  tengah jalur untuk menyebrang dan sekarang sudah duduk berdua bersebelahan di depan ini tepat di depanku ?” Ucap Rian sangat antusias di depan Bintang dan Ve. Sedangkan mereka berdua hanya bisa tertawa menanggapinya.
“Tang, kamu harus segera tulis ini di laptopmu. Aku tidak menyangka kau bisa seperti ini.”
Lanjut Rian sambil menatap dekat kearah Bintang.
“Hmmmm, dan Ve,” Kali ini nada bicaranya Rian lebih lembut ke arahnya “Kau harus hati-hati dengan pria ini, mungkin laptopnya bisa menjadi sainganmu. Ingat kata-kataku.”

“Yan, kami yang seperti ini kenapa malah kamu yang antusias.”
“Gapapa lah Tang. Seorang Bintang yang aku kenal ternyata bisa seperti ini ya.” Tawa Rian pecah dan menarik perhatian seluruh pengunjung cafe.
“Heh, di liat semua orang tuh. Mending kamu sana buruan ambil pesanan kami.”
“Iya iya. Tunggu sebentar.” Balas Rian malas. “Ve tunggu ya, sebentar lagi pesanannya datang.” Nada Rian kembali menjadi lembut lagi kali ini.”
“Eheemmmmm.” Bintang yang kali ini menatap tajam kearah Rian.
Ve hanya bisa tersenyum melihat tingkah mereka berdua.

Akhirnya siang ini di mereka bertiga habiskan untuk mengobrol bersama. Entah Rian yang tidak peka atau dia memang sengaja ingin mengganggu Bintang dan Ve untuk berdua. Tapi setidaknya mereka menjadi lebih akrab. Untung ada Rian yang bisa mencairkan suasana, tidak seperti Bintang yang ya kalian bisa tau sendiri lah.
Tidak terasa waktu begitu cepat berlalu.
Bintang dan Ve memang akan melanjutkan untuk berkeliling dan menuju pasar malam setelah dari cafe.
“Kalian harus lebih sering lagi datang ke sini biar bisa makin dekat ya.”  Ucap Rian.
“Ya baiklah, kami akan ke sini asal kau tidak mengganggu saja.” Balas Bintang
Mereka bertiga tertawa bersama.
“Kami pasti sering ke sini kok.” Lanjut Ve.
“Ah tentu saja pintu akan selalu terbuka untukmu Ve.” Kembali lagi, nada lembut yang keluar dari mulut Rian.
“Eheeemmmm.” Potong Bintang di sambut kembali oleh tawa mereka.

Lampu penyebrangan masih merah untuk para pejalan kaki.
Siapa yang tidak ingat, di tempat mereka berdua bertemu. Mereka terus bercerita dan saling menertawakan satu sama lain ketika mengingat yang mereka alami dua minggu yang lalu.
“Tunggu sebentar..” Tanpa memperdulikan Ve, Bintang berbalik arah, tampak kembali menuju cafe.
“Kamu terus saja, tunggu di depan toko bunga di seberang sana. Aku hanya sebentar kok.”
Ve tidak sempat membalas dan tampak bingung sambil meliat Bintang yang berlari sangat terburu-buru.
Lampu penyeberangan sudah hijau, tapi kali ini dia merasa tenang. Tidak sesak ketika siang hari dimana banyak orang-orang tinggi berhimpitan yang sangat tidak disukai Ve.
Ve lalu melanjutkan langkahnya sambil melihat ke belakang, tapi masih belum ada tanda-tanda Bintang.

“Hey!” Semua pejalan sore itu terkejut dengan teriakan itu dan mencari asal suara itu.
Begitu juga Ve. Orang-orang tetap seperti biasanya, tidak peduli dan terus berjalan setelah melihat asal suara itu.
Bintang. Lagi-lagi dia yang berteriak, kali ini dia sambil menunjuk Ve dengan yakin. “Iya kamu.. Tunggu dong.” Bintang tertawa melihat Ve yang terkejut karena teriakannya.
“Kamu melupakan ini, gadis ceroboh.” Bintang memberikan kembali benda yang seharusnya milik Ve. Kunci apartemennya dengan hiasan gantungan kunci bunga matahari yang bergantung.
Wajah Ve makin terkejut dan ada sedikit rasa malu karena masih saja melakukan hal yang sama.
“Jika sekali lagi kau ulangi aku tidak akan mengambilnya lagi..”
Lanjut bintang sambil terengah-engah. “…Ingat itu, Ve.” Lanjutnya.
“Iya, maaf, aku yang salah.” Balas Ve sambil menggaruk-garuk kecil bagian belakang kepalanya.
“Makasih ya..Binntang.”
Ve tersenyum. Membuat wajah manisnya semakin membuat Bintang tidak tau harus apa, di tambah behel bening yang tersusun rapi di gigi Ve dan jangan lupa dengan matanya yang tenggelam saat dia tersenyum.
“Hey cepatlah menyebrang.”
“Apa yang kalian lakukan ?”
Beberapa omelan pengemudi dan klakson terus bersuara. Ve dan Bintang lupa kalau mereka masih tepat di tengah tempat menyebrang.

Mereka tertawa bersama, tawa yang lebih akrab dan dekat.
Kemudia berlari ke pinggir. Tidak lupa juga Bintang menggenggam kuat tangan Ve.
Mereka melangkah melewati jalan sore itu yang berhias dengan suara kerumunan orang dan anak-anak yang berlarian serta beberapa toko yang hampir tutup. Senja hari itu menemani tawa mereka yang abadi yang sudah tidak sabar menanti bintang malam. Bintang yang terang, seterang Bintangnya Ve.

Iklan

11 thoughts on “Bintangnya Ve

  1. duniaely 13 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    fiksi atau berdasar kisah nyata nih ? 😛

    • Ka'mar 3 Desember 2013 pukul 00:34 Reply

      Untungnya, ini cuma fiksi.

  2. ryan 13 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    wah… seru juga..
    ngebayangin diri di tengah jalan… :d

    • Ka'mar 3 Desember 2013 pukul 00:34 Reply

      Asal jangan ada yang nabrak aja sih ya.

      • Ryan 3 Desember 2013 pukul 00:34

        Hahahaha. Jangan dong

  3. capung2 13 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    persimpangan lampu merah sptnya menjadi tmpt kenangan buat dua sejoli dlm cerita ini..

    • Ka'mar 3 Desember 2013 pukul 00:34 Reply

      karena sebuah cerita bisa dimana dan kapanpun terjadi.

  4. papapz 14 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    aiiih.. saya udah lewat nih momen-momen kaya gini wkwkw

    • Ka'mar 3 Desember 2013 pukul 00:34 Reply

      Ya sekali-kali ayo mengenang lagi.

  5. Swastika Saja 26 Mei 2013 pukul 00:34 Reply

    Persimpangan mmg bisa jadi tempat yg penuh arti 🙂 Btw, salam kenal… blog walking dan nggak sengaja nemu blog ini. Cool!!

    • Mario Christian 9 September 2013 pukul 00:34 Reply

      Ya, banyak cerita di persimpangan 😀
      Makasih ya mbak sudah berkunjung.

Berkomentarlah, selama itu masih gratis

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: