Kita dan Hujan

“Kau tau, meskipun aku sangat mencintai hujan tapi aku enggan menyebut diriku pluviophile.”

Wanita berambut pendek dengan bajunya yang sedikit basah itu menjulurkan tangan ke sisi luar yang tidak tertutup atap halte bus untuk merasakan dinginnya air hujan yang masih turun dengan deras. Wanita itu terus berbicara kepada seseorang di sebelahnya yang entah tidak perduli atau dia juga diam-diam memperhatikan setiap ocehan wanita di sebelahnya. Wanita itu bercerita panjang lebar, semua tentang ketertarikan dan hal-hal yang dia lakukan ketika hujan turun.
Di saat kehabisan kata-kata, wanita itu membongkar isi tas belanjaan yang tampak penuh di tangan kirinya, dia mengambil sebatang coklat dan menyodorkan untuk pria disebelahnya. Pria itu menggeleng, tanda menolak. Entah kali karena dia tidak begitu menyukai coklat atau dia terlalu waspada terhadap orang asing.
“Aku tidak tertarik dengan hujan..” Suara yang begitu berat terdengar jelas di telinga wanita itu.
“Hujan itu mengacaukan segalnya, menghasilkan genangan di mana-mana, tanah yang becek dan juga mengganggu orang-orang dan kesibukannya.”  Lanjut pria itu sambil terus memperhatikan ke kanan dan ke kiri berharap bus cepat datang dan mengantarnya pulang ke rumah. Tempat dimana dia bisa berkurung lebih lama di dalam kamar ketika hujan tanpa ada satupun gangguan dari luar.
“Kau sepertinya terburu-buru. Apa kau sedang ingin mengejar sesuatu ? Sesuatu yang penting ?”
“Iya. Ini bahkan jauh lebih penting daripada ocehan hujanmu yang tidak habisnya.”
“Jika di beri dua pilihan, hujan atau aku yang paling kau benci ?”
“Manusia terlahir bukan untuk membenci, tapi bukan pula untuk mencintai terlalu cepat.”

Wanita itu menatap tajam pria itu dengan bola mata yang penuh rasa penasaran di dalamnya. Dia kemabali menyodorkan sebatang coklat yang masih di genggamnya tanpa berkata-kata. Tapi pria itu hanya menatap lurus ke depan dengan kedua tangan di dalam kantong jaketnya tanpa perduli tawaran wanita itu.
Wanita itu pun menggembungkan kedua pipinya..
”Baru kali ini aku menemukan orang yang mampu menolak sebatang coklat.”
“Dan ini juga kali pertamaku bertemu dengan seseorang sepertimu.” Entahlah, apa kalimat itu bermaksud positif atau negatif.
Pria itu tetap diam pada posisinya dan wanita itu membuka bungkusan dan mulai mengunyah coklatnya perlahan.
“Tapi apa kau tau, cerita sehabis hujan adalah yang termanis. Jauh melebihi coklat ini..”
“..Tapi sayang, akan cepat habis begitu saja. Matahari akan segera kembali bersinar dan mengeringkan semuanya.” Potong pria itu.

Jeda yang tidak begitu panjang terjadi di antara mereka, sampai akhirnya dari kejauhan tawa beberapa anak kecil yang lepas mengalihkan perhatian mereka untuk sesaat. Anak-anak itu berlarian tanpa alas kaki dan saling kejar-kejaran, beberapa ada yang mengayuh sepedanya dengan sedikit terengah-engah. Mereka terus melewati halte bus dan tak terlihat lagi di ujung jalan.
“Lihat kan ? Betapa indahnya hujan. Membawa banyak cerita untuk mereka yang menikmatinya. Kau juga, apa salahnya untuk sedikit membebaskan dirimu dan menikmati hujan.” Wanita itu kembali mengengok  ke arah pria itu setelah beberapa saat perhatiannya teralihkan oleh anak-anak kecil tadi.

“Untuk apa di nikmati ? Jika ini hanyalah sementara.”
“Hey, ini bukan sementara. Hujan akan selalu terus ada. Ini hanya masalah waktu, kapan dia akan datang. Jadi.. Kau memang membenci hujan ya ?” Lanjutnya
“Sudah ku katakan manusia bukan terlahir untuk membenci. Aku hanya tidak tertarik.”
“Kalau begitu apa yang harus ku lakukan agar kau menyukai hujan ?”
“Berikan aku sebuah alasan.” Balas pria itu santai.
Wanita itu kini bingung sendiri. Dia bukan tipe seseorang yang mampu berpikir cepat.
“Jika tak ada hujan, mungkin kita tak akan bisa bertemu dan bercerita di sini.” Wanita itu sedikit bangga dengan jawabannya sendiri.

Pria itu perlahan menoleh ke arah wanita itu. Wanita itu balik menatap dan kemudian nyengir. Kali ini tanpa suatu alasan dia kembali menawarkan sebatang coklat itu lagi. Walau hanya sepotong kecil, pria itu kini menerima coklat itu. Dia mencoba memakannya dengan sedikit ragu.
Baru kali ini wanita itu melihat ekspresi masam dari orang yang mencoba memakan sesuatu yang tidak di sukainya.
Sementara wanita itu tertawa, pria itu menjauh ke ujung halte dan meludah, membuang beberapa coklat yang masih lengket di lidahnya.

Kemudian, dari persimpangan jalan terdengar suara bus yang semakin mendekat. Rintik hujan mulai reda, genangan tercipta di beberapa tempat di sekitar mereka, aroma rerumputan dan tanah sehabis hujan begitu menusuk tanpa meninggalkan khas-nya.
“Ini..” Wanita itu menyodorkan sebotol air mineral kepada pria itu dengan masih sedikit menahan tawa. Segera pria itu mengambilnya dan meminumnya, berharap rasa yang di bencinya itu lekas hilang.

Pintu bus sudah terbuka.
“Kau tidak naik ?” Tanya pria itu.
Wanita itu menggeleng. “Aku menunggu bus berikutnya.”
“Baiklah..” Pria itu perlahan menaiki tangga bus dengan sepatunya yang tampak masih basah.
Sebelum pintu bus di tutup, pria itu berbalik “Ahh.. Ya, namamu ?”

Wanita itu menggeleng sambil tersenyum.
Pria itu hanya bisa membalas tersenyum sambil mengerutkan dahi tanpa sedikit rasa kecewa di dalamnya.
“Biarlah genangan sehabis hujan yang kau benci dan aroma hujan yang menghempas tanah yang nantinya kembali mempertemukan kita..” Ucap wanita itu.

Bus pun berangkat, jauh dan semakin jauh.
Tanpa mereka sadari, hujan telah menuliskan halaman pertama cerita mereka.
Wanita itu mengecek lagi beberapa isi tas belanjaannya sembari menunggu bus berikutnya yang akan datang. Sementara pria yang tadi duduk di salah satu kursi bagian belakang bus dengan perasan penuh dan berucap di dalam hatinya “Ya.. Ternyata hujan tidak begitu buruk.”

Iklan

Berkomentarlah, selama itu masih gratis

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: