Arsip Kategori: Cerita pendek

Kita dan Hujan

“Kau tau, meskipun aku sangat mencintai hujan tapi aku enggan menyebut diriku pluviophile.”

Wanita berambut pendek dengan bajunya yang sedikit basah itu menjulurkan tangan ke sisi luar yang tidak tertutup atap halte bus untuk merasakan dinginnya air hujan yang masih turun dengan deras. Wanita itu terus berbicara kepada seseorang di sebelahnya yang entah tidak perduli atau dia juga diam-diam memperhatikan setiap ocehan wanita di sebelahnya. Wanita itu bercerita panjang lebar, semua tentang ketertarikan dan hal-hal yang dia lakukan ketika hujan turun.
Di saat kehabisan kata-kata, wanita itu membongkar isi tas belanjaan yang tampak penuh di tangan kirinya, dia mengambil sebatang coklat dan menyodorkan untuk pria disebelahnya. Pria itu menggeleng, tanda menolak. Entah kali karena dia tidak begitu menyukai coklat atau dia terlalu waspada terhadap orang asing.
“Aku tidak tertarik dengan hujan..” Suara yang begitu berat terdengar jelas di telinga wanita itu. Baca lebih lanjut

Salju yang merekam cerita

tumblr_m9wf50XlEa1r2vkvao1_500

‘Kau tau apa yang lebih manis dari teh sore ini ?’ Ujar seorang wanita di sebelahku.

‘Senyu..  Ah tidak. Aku lebih memilih buah yang masih menjadi anggota keluarga Rosaceae dan dari spesies Malus domestica. Buah yang akan matang 6-10 kali lebih cepat pada suhu kamar daripada disimpan di dalam lemari es.’ Balasku.

‘Cukup. Ini sudah terlalu sore untuk mu membagi-bagi pengetahuan yang serba kau ketahui.’

‘Lihatlah di balik jendela, semua benda putih dan indah itu. Tertarik untuk membawanya masuk dan menyimpannya sepanjang tahun ?’

‘Sepertinya aku lebih tertarik untuk memandangmu sepanjang waktu tanpa kedip dan membiarkan mu melewati bulan ini bersama dingin dalam pelukanku.’

Wanita yang masih tetap memandang kagum ke luar jendela kini memasang sarung tangan biru muda yang tampak lucu di tangannya yang mungil. Kemudian, segelas tes panas sore tu ia tiup perlahan dan menyebabkan lensa kacamatanya penuh embun.

‘Entah kenapa , aku selalu menyukai bulan keduabelas dalam Kalender Gregorian ini. Lautan benda putih di luar sana, dinginnya hawa yang menusuk serta akan banyaknya perna-pernik indah yang menghiasi tiap sudut Gereja kini makin terasa lengkap dengan hadirmu.’ Lanjut ku sembari membenarkan topi pelindung musim dinginnya yang tampak miring.’

‘Tertarik untuk keluar ?’ Ajak ku.

Dengan cepat wanita itu menggengam tanganku dan mencoba menyesuaikan langkah kakiku. Jalan luar berselimut pendah putih yang tebal  sangat membuat tampak berbeda. Uap yang terus menerus keluar dari mulut kami membuatnya terasa lengkap. Bangku taman yang masih penuh tertup salju semalam suntuk coba kami bersihkan mencoba duduk senyaman mungkin sembari menikmati sore yang makin beku.

‘Setahun lalu, aku tepat berada di bangku ini. Diam. Tanpa suara. Mengingat bahwa ada yang pergi, hilang tanpa jejak. Membiarkan salju mengguyur tubuhku dengan tiap butiran-butiran yang jatuh, membuat raga dan hati yang sama-sama menggigil saat itu. Hanya gonggongan anjing di ujung jalan yang ku ingat waktu itu, terus menggema dalam pikiran yang kosong. Bahkan susu coklat malam itu terasa hambar..’

‘Untuk apa mengingat sebuah kisah yang bahkan jika di jadikan buku pasti tak ada yang mau membacanya ulang.’ Ucap wanita di sebelahku dengan santai.

‘Ya.. Tapi kau lihat. Akhir dari cerita itu ada di sini, tepat di sebelahku. Akhir untuk sebuah awal. Awal yang bahkan jauh lebih manis dari perisa apel atau pun sesendok madu segar.’

‘Aku harap aku bukanlah sebuah alasan yang membuatmu diabetes nantinya.’

‘Jika itu ulahmu, aku selalu siap.’ Balasku santai.

Wanita itu cuma bisa tertawa pelan dan memukul kecil pundaku.

Salju mulai turun perlahan, jatuh menghantam bumi. Saling tatap yang tak pernah putus terus berlanjut dalam diam, tatapan yang salin tersimpan rasa hangat dan nyaman didalamnya seolah-olah membuatnya semuanya mencair di sekitar kami.
Entah apa yang terjadi, tapi saat itu terdengar jelas alunan lonceng yang terus berdentang bersama melodi yang lembut dan manis.

Bintangnya Ve

Jam makan yang sama seperti biasanya. Datar.
Hanya duduk di tempat favorit ku, bersama laptop dan makan siang ku, tepat di kursi paling pojok.
Semenjak kerja magang di kantor swasta selama 4 bulan, cafe ini juga menjadi saksi bisu apa saja yang ku lakukan setiap makan siang. Beberapa pegawai tetap di tempat makan ini juga sudah cukup akrab dengan ku, hafal dengan selera ku. Bahkan sudah paham untuk menyediakan tempat kosong bila ini jam makan siang ku. Ya, tempat yang cukup nyaman untuk menghabiskan waktu makan siang, sendirian.  Wi-fi yang gratis, tempat charge, semuanya membuatku hampir lupa waktu. Kadang pegawai yang sudah mengenal ku tidak segan untuk menegur bahwa waktu makan siang ku sudah habis. Mereka pegawai yang baik, untuk diriku pribadi. Banyak semua hal yang aku lihat dan tonton gratis dari tempat ini. Dari pengunjung yang kelupaan membawa dompet, pengunjung yang lebih banyak bergosip daripada memesan makanan, sampai drama kisah cinta yang tidak ada habisnya. Semuanya lengkap di tempat makan ini. Oh ya jangan lupa dengan lonceng di atas pintunya. Aku sangat menyukainya. Entah apa hanya aku yang menyukai lonceng yang berbunyi saat pintu itu terbuka.

Kamis, 11:25 siang.
Tempat ini ramai seperti biasanya, suara pegawai cafe yang sibuk mengurusi semua pesanan, omelan beberapa pengunjung yang tidak sabaran, dan juga suara lonceng yang bergoyang otomatis ketika pengunjung membuka pintu masuk. Semuanya berkumpul menjadi satu.
Aku fokus pada layar laptop dan jari-jariku yang terus menari di atas keyboard.

“Kopi hangatnya satu, tambah gulanya sedikit ya, mbak.”
“Baiklah, ada pesanan lain ?”
“Ga mbak, itu aja.”

Suara seorang pembeli yang kali ini tampak berbeda. Suara yang tidak lewat begitu saja tapi melekat beberapa saat, lalu pergi, tapi meninggalkan bekas. Bekas yang membuat penasaran. Baca lebih lanjut

Secangkir Melody

Segelas kopi di angkringan menemani malam ku yang dingin dan berangin.
Tampaknya akan hujan lebat, tampaknya aku akan lebih lama di angkringan ini. Sendirian.
Kopi yang ku pesan masih hangat-hangatnya. Ku ambil gelas dan ku dekatkan ke mulut sambil meniup-niupnya.
‘Mas, pesan kopi yang sama kaya orang itu ya.’
Suara itu muncul tiba-tiba tepat di sebelahku. Ku lihat seorang gadis muda berpenampilan rapi, lebih tepatnya cantik, untuk ku pribadi. Ku perhatikan sekelilingku,hanya aku dan Mas pemilik angkirngan ini yang ada, sebelum gadis itu datang. Ya, sudah pasti dia menunjuk kopi yang ku minum tadi.
‘Ka, rasa kopi gimana sih ? Aku dari kecil belum pernah minum kopi, entah kenapa aku penasaran dan pengen banget nyoba.’
‘Ya, coba sendiri deh. Tuh punya kamu udah jadi.’  Jawabku dengan masih memasang tampang siapa-anda-yang-mendadak-datang-lalu-menegur-gitu-aja, sambil menunjuk kepada Mas yang sedang mengaduk kopi pesanan gadis itu.
‘Awas masih panas.’ Lanjutku sambil kembali menyeruput kopiku.
Gadis itu memegang kopi dengan kedua tangannya hanya menggunakan kedua telunjuk dan ibu jarinya tepat di bibir gelas, dan meminumnya.
‘Ohh jadi pahitnya gini ya, ka. Kaya obat.’ Gadis itu menatap ku sambil nyengir.
‘Ya ini kan bukan susu.’ Balas ku. ‘Tapi kalau kamu kepahitan ya kamu bisa minta gula sama Mas nya.’
‘Ah engga deh, aku mau ngerasin nikmatnya kopi yang original deh.. Hehehehe.’
‘Ya silahkan deh, nikmati kopi pertamamu.’ Lanjutku sambil kembali meneguk kopi ku perlahan.

Suasana hening. Gadis itu tampak diam memperhatikan gelas kopinya. Aku lebih memilih untuk mengambil handphone ku, ya, cara ini biasa ku gunakan di saat momen-momen akward seperti ini. Lagipula aku harus berbuat apa dengan gadis yang datang tiba-tiba lalu mengajak mengobrol seolah-olah sudah kenal lama.
Gadis itu memainkan sendok dan terus mengaduk kopi itu terus menerus.
Entah kenapa aku terus memperhatikannya, dengan banyak pertanyaan yang ingin ku lontarkan.
Tiba-tiba gadis itu beranjak dan membayar dengan selembar uang lima puluh ribu. ‘Sekalian nih mas kopi aku tambah punya kaka yang itu ya, sisanya ambil aja deh.’
Gadis itu berangkat dan membiarkan kopinya masih penuh dan panas, tentu juga dengan perasaan heran ku yang makin besar. ‘Wah pelanggan ada-ada aja ya.’ Ucap Mas pemilik angkringan dengan logat Jawanya yang kental.
‘Hahaha iya, ada-ada aja ya.. Hahaha.. Ha.’
Jawabku sambil masih penuh dengan rasa heran. Baca lebih lanjut

Seberkas Kenangan

Suhu udara di akhir pekan kadang tidak ada bedanya, tetap saja panas dan gerah. Membuat Dhi sudah sangat tidak sanggup untuk tetap berdiam di kamarnya yang tanpa AC bahkan kipas angin sekalipun. Memang selalu seperti inilah kegiatan Dhi di akhir pekan, duduk santai di depan layar komputer sambil menikmati fasilitas internet yang memang di pasang di rumahnya. Suasana di kamarnya sangat hening, hanya suara klik‘ dari mouse’nya lah yang dapat terdengar.
Akhirnya Dhi memutuskan untuk pergi keluar menuju warung es campur di depan komplek, tempat langganan Dhi jika cuaca tidak bersahabat di saat seperti ini. Mbok Dini , begitulah panggilan akrabnya si penjual es campur itu, yang bahkan sudah sangat kenal akrab dengan Dhi. Bagaimana tidak ? Mbok Dini sudah lama berjualan di komplek itu bahkan sejak Dhi masih berumur 5 tahun.
Sambil menuruni tangga rumahnya, dari atas Dhi melihat Daren, adik laki-lakinnya yang sekarang masih duduk di kelas 6 Sekolah Dasar sedang asik bermain console playsatsion 3 bersama teman-temannya. Beberapa dari temannya juga ada yang membawa PSP kesayangannya. Semua tampak fokus menghadap ke layar. Dhi hanya memandang mereka dan terus berlalu keluar rumah. Baca lebih lanjut